Posted in Tadabbur Alam

Tadabbur Alam : GOA CINA MALANG

Bismillah.

Kalender sudah menunjukkan akhir semester, dan tugas akhir yang kukerjakan-pun belum selesai. Saat itu aku mengikuti PKM ( program kreativitas mahasiswa ) dan ternyata proposal lolos, dan mentorku menyarankan untuk mengerjakannya :). Akhirnya tugas akhirku pun terbengkalai. Ah, bakal molor ini hahaha.
Disaat itu kami para geng laron ( lari on the morning, entah ini nama dapat darimana namun kami bangga menyandang nama itu 😀 ) sama-sama bingung juga karena rata-rata tugas akhir kami molor semua ( emang kalau udah klop, molornya juga klop :v ).

“Ayo wes budal nangdi iki? ( ayo mau kemana ini?), laron A memulai diskusi tidak jelas ini.
“Ayo goa cino ta?( Ayo ke gua cina?), laron B menimpali.
“Budal tok!”, laron C menutup diskusi ( is this even worth a discussion??).

Akhirnya kami semua sepakat berangkat ke goa cina, aku sebenarnya bingung kenapa juga mau ikut. Mungkin karena udah nyerah memutuskan untuk berkumpul sejenak bersama teman-teman sepergeng-an, karena mungkin setelah ini kami akan terpisah-pisah, terlempar oleh nasib ke berbagai penjuru indonesia :’).

 

Berangkatlah kami ber-lupa aku berapa orang, pada siang hari dengan harapan sampai disana sore-malam hari. Ini adalah perjalanan pertamaku untuk berekreasi tadabbur alam ( Ya Allah, aku terlalu sibuk dengan hal-hal dunia sehingga lupa untuk mentadabburi ciptaanMu ).  Aku berboncengan dengan temanku, kupacu sekuat tangan memelintir genggaman motor. Panah menunjuk 60 Km/jam. Wah aku cukup cepat rupanya. Dugaanku salah, ternyata laron-laron lain terbang melampai ‘batas’ kecepatanku. rata-rata mereka memacu hingga 100 KM/jam. Akhirnya kuberanikan tangan ini memelintir lebih pelintir lagi hingga 100 km /jam. Sensasinya sangat berbeda dari biasanya. Angin yang biasanya membelai kini serasa menampar dan memukul seluruh tubuh dari arah depan. Kutembus cakrawala ( alay ) ini!.

Pukul 6 sore, kami singgah di masjid Rohman malang. Baru saja dimulai, hujan di sore itu. menyisakan keajaiban, kilauan indahnya rintik hujan yang menemani kami makan bakso, setelah sholat maghrib tentunya. Canda ria seperti ini jarang sekali kudapatkan. Bertualang bersama laron-laron sambil menikmati kebersamaan.

Bersambung…

Advertisements

Author:

Insan biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s