Posted in Belajar Dakwah, Kontemplasi

Ibu Kucing

Jam sudah menunjukkan pukul 6.15pagi. Kurang 45 menit sebelum jam masuk kantor. Aku pun segera mengambil sarapan dan duduk di dekat pintu yang agak terbuka, sambil menikmati belaian angin semilir. Pot-pot tanaman menghiasi pandangan menyenjukkan mata.

“Meong”, seekor induk kucing mendekat, pertanda aku harus membagi sedikit rezeki pemberian Allah SWT.
Kucuil ( memotong sedikit ) telur ceplok dan kuberikan kepada kucing tersebut.
Si induk kucing pun mengendus dan memakan perlahan potongan telur tersebut. Dua ekor anak kucing mendekati induknya. Kaki kecil itu melangkah perlahan mendekati. Si Induk kucing berhenti makan dan mempersilahkan kedua anak-anaknya makan terlebih dahulu. Masya Allah, ilmu dari Allah memang turun tanpa terduga. Tak ada satupun yang bisa mencegah-NYA.

Sikap induk kucing ini mengingatkan ku pada Ibu-ku ( sikapnya, bukan kucingnya XD ). Ibu selalu mendahulukan kepentingan anak-anaknya tanpa memperahtikan diri sendiri. bahkan terkadang beliau berbohong demi kebaikan kita. “Kamu ambil aja ayamnya, ibu gak seneng makan ayam”, atau “Ibu nggak papa, cepetean berangkat nanti terlambat”.

Rabbighfirli waliwalidayya Warhamhuma kamaa rabbayanii shoghiro.

Advertisements

Author:

Insan biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s