Posted in Kontemplasi

Happiness and Love dont have a price. #1

fp0rl1ls220150507090103-1147955215l6uej1tr8s

Bismillah,

beberapa hari yang lalu saya pergi ke Kota Kediri karena ada urusan pekerjaan. Waktu pulangnya saya agak malam naik bis dari alun-alun. Di pojokan lampu merah masih kuingat ada sesosok ibu-ibu sedang bercanda dengan anak-anaknya. Kudekati mereka dan kuajak ngobrol sebentar.
Ibu-ibu itu duduk diatas sebuah tikar, beberapa meter dari bangjo ( tiang lampu ). Terdapat dua anak-anak kecil bermain menggunakan selimut mereka, putih agak abu-abu mungkin terkena asap kendaraan.

“Bu, kalau mau ke Surabaya memang disini ya menghadang bisnya? ”
“Iya nak, tapi kalau malam biasanya memang sudah jarang…”
wah, iki. bisa-bisa pulang pagi aku.. gumam dalam hati.
Melihatku agak khawatir, naluri keibuannya pun mencoba menghibur, ” Tapi habis ini lewat kok nak, sebentar lagi”.
Ah, hati ini agak tenang sedikit. Memang naluri seorang natural ada pada wanita, ya iya lah masak di pria.
“nggih buk, saya pergi ke seberang lagi ya. Matur suwun”. Lambaian tangan dan senyuman tanpa pamrih ibu tersebut mengiringi perjalananku kembali.
Meskipun mereka hidup serba kekurangan, namun senyuman tetap bisa terkembang dari hati yang merasa berkecukupan dan saling memiliki. Hendaknya kita yang serba berkecukupan ini selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, kelebihan yang amat sangat kita rasakan setiap hari.
Kebahagiaan dan cinta memang tidak ada harganya!.
Hasbunallah wani’mal wakiil.

Advertisements

Author:

Insan biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s