Ganti Kacamata

Bismillah

sore kemarin saya membeli beberapa buah krupuk di seorang bapak,

beliau menggunakan motor untuk keliling menjajakan krupuknya. Sejenak saya berpikir, saat ini ada orang yang mungkin sama2 bekerja, lebih enak dan santai, gajinya lebih besar pula. kelihatannya kok nggak adil gitu ya, Beliau lebih keras bekerja, namun profit tak seberapa.

Kalau kita ngeliat ginian pake kacamata dunia, nggak bakalan kita pernah ngerasa dunia ini adil. nggak akan pernah kita ngerasakan namanya bersyukur, qanaah terhadap pemberian Allah Ta’ala

Coba deh kita ganti kacamata kita pakai kacamata akhirat.

Ya, dunia ini nggak seberapa dibanding akhirat. jujur saya sendiri masih mencintai dunia, gimana cara taunya?

coba deh antum pergi ke masjid, ke kotak amal, buka dompet. Nah nilai yang kita masukin ke kotak ama itu penanda seberapa besar cinta kita ke dunia.

Semoga kita semua dijadikan Allah Azza Wa Jalla sebagai sultan, raja di dunia ini yang tidak pernah takut kehilangan dunia

dan

bukan sebagai hamba yang senantiasa mengejar dunia.

Perbedaan #2

Bismillah.
Dewasa itu mandiri. bisa mengurus segala keperluannya sendiri. Namun yang perlu ditekankan disini yaitu mandirinya disuruh atau inisiatif sendiri?
Kalau kita mandiri namun masih harus diperintah misalkan,
cuci tangan sebelum makan, bersihkan piring setelah dipakai, dan sebagainya , menurut saya pribadi kita masih jauh dari kata ‘dewasa’
Apalagi sebagai calon pemimpin kita harus senantiasa kreatif dan berinisiatif, agar istri (nanti) kita mampu meneladani apa yang kita kerjakan.
Bahkan penulis sendiri pun sekarang ini masih terus mengembangkan ke-initiativeannya…

Happiness and Love dont have a price. #1

fp0rl1ls220150507090103-1147955215l6uej1tr8s

Bismillah,

beberapa hari yang lalu saya pergi ke Kota Kediri karena ada urusan pekerjaan. Waktu pulangnya saya agak malam naik bis dari alun-alun. Di pojokan lampu merah masih kuingat ada sesosok ibu-ibu sedang bercanda dengan anak-anaknya. Kudekati mereka dan kuajak ngobrol sebentar.
Ibu-ibu itu duduk diatas sebuah tikar, beberapa meter dari bangjo ( tiang lampu ). Terdapat dua anak-anak kecil bermain menggunakan selimut mereka, putih agak abu-abu mungkin terkena asap kendaraan.

“Bu, kalau mau ke Surabaya memang disini ya menghadang bisnya? ”
“Iya nak, tapi kalau malam biasanya memang sudah jarang…”
wah, iki. bisa-bisa pulang pagi aku.. gumam dalam hati.
Melihatku agak khawatir, naluri keibuannya pun mencoba menghibur, ” Tapi habis ini lewat kok nak, sebentar lagi”.
Ah, hati ini agak tenang sedikit. Memang naluri seorang natural ada pada wanita, ya iya lah masak di pria.
“nggih buk, saya pergi ke seberang lagi ya. Matur suwun”. Lambaian tangan dan senyuman tanpa pamrih ibu tersebut mengiringi perjalananku kembali.
Meskipun mereka hidup serba kekurangan, namun senyuman tetap bisa terkembang dari hati yang merasa berkecukupan dan saling memiliki. Hendaknya kita yang serba berkecukupan ini selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, kelebihan yang amat sangat kita rasakan setiap hari.
Kebahagiaan dan cinta memang tidak ada harganya!.
Hasbunallah wani’mal wakiil.

Dunia Ibu Rumah Tangga

“Tanpa atau dengan saya, kereta akan tetap melaju dengan orang-orang hebat di dalamnya.”

Berdasarkan yang saya rasakan, dunia seorang ibu rumah tangga berisi lebih sedikit prioritas ketimbang dunia perempuan pada umumnya. Prioritasnya kini adalah anak. Lalu suami. Obsesi untuk menjadi “seseorang untuk dunia” berganti menjadi “dunia untuk seseorang (anak)”

Dunia serasa mengecil seukuran kamar tidur. Isinya hanya tentang anak bangun tidur, anak mandi, anak makan minum, anak main, dan anak tidur lagi. Waktu dengan suami saja sering dikorbankan. Waktu untuk diri sendiri? Hanya ada saat di kamar mandi, tidur, dan saat shalat, bahkan saya kadang saat ke kamar mandi dan shalat pun harus membawa serta anak.

Kepuasan meraih cita-cita dan mimpi pribadi rasanya kalah oleh kepuasan saat melihat anak bangun dengan tersenyum, bermain riang dan bisa tertidur pulas dengan perut kenyang.

Dunia tanpa saya akan baik-baik saja. Kereta akan tetap melaju dengan orang-orang hebat di dalamnya. Tapi keluargaku tanpa sosok ibu dan istri?

Itulah mengapa saya memilih menjadi ibu rumah tangga yang bekerja di rumah. Syukur, menulis adalah profesi yang fleksibel secara tempat dan waktu. Bisa dikerjakan saat semua pekerjaan rumah tangga beres dan si bayi kecil tertidur pulas (seperti sekarang). Berkah dari hobi menulis blog (dan berlanjut menjadi buku) bisa membantu suami menambah pemasukan untuk keluarga, menjemput rizki milik anak kalau kata suami

Selama yakin bahwa segala peran yang kita lakoni pada dasarnya adalah bentuk pengabdian dan pelayanan pada Allah, tidak akan ada lelah dan pengorbanan yang sia-sia.

 

ditulis oleh : http://urfa-qurrota-ainy.tumblr.com/

Happy Starting

Bismillah,

Sering kita melihat film atau drama dimana ada dua karakter laki dan perempuan saling mencintai.
berbagai rintangan mereka lewati untuk menyatukan dua hati yang haus akan cinta suci.
Pada akhirnya mereka berdua pun bersatu dan hidup bahagia selamanya..
Happy ending…

….

…?????
Woy, lu nikah itu bukan ending, tapi starting. awal dari kehidupan yang baru.
Kenapa film2 jarang nyeritain kehidupan setelah menikah?? karena ya nggak sesimpel happy ending itu.

Kalau kata Ustadz Salim A. Fillah yang intinya seperti berikut:

Pangeran dan Putri pun menikah.
Terkadang mereka mendapat nikmat Allah dan bersyukur.
Terkadang mereka mendapat ujian Allah dan bersabar.
Berdua saling melengkapi dan memperbaiki diri ,
beribadah kepada Allah Subahanallahu Ta’ala

Istiqomah sampai akhir hayat…

 

sumber gambar : http://bahaiblog.net/site/wp-content/uploads/2012/03/photodune-1553854-sunrise-m1.jpg

How to be happy.

Bismillah.
Yu : Bagaimana caranya agar bahagia?
Mi : Jangan sedih.
Yu: Becanda nih jawabnya..
Mi: Lah..
Yu: Aku serius kak
Mi: La Tahzan.
Yu:  :D, Innallaha Ma’ana

sumber gambar : http://bersamadakwah.net/wp-content/uploads/2015/08/Tumbuh-di-masa-sulit-clarionetprisesdotcom-640×420.jpg

Niat lagi.

Bismillah,

lagi-lagi meluruskan niat. Melihat timeline sosmed banyak sekali posting foto-foto n***h, hati pun tak kuasa menahan niat yang sudah semakin mengumpul. AKhirnya belajar ilmu, semakin belajar semakin tahu namun semakin merasa tidak tahu. Aku ingin ( istri ) begini, aku ingin (anak) begitu. ingin ini ingin itu banyak sekali.. haha.
Tapi hatiku masih ragu apakah sudah benar niatku?
Dalam suatu ceramah Ustadz Khalid Basalamah,
“menikah itu diniatkan untuk Allah Ta’ala semata”.

Nah, dor, jebret, prang. Kuulang lagi pertanyaan pada qalbu, “Wes bener ora niatmu le?”…